Desa Wewangrewu sekarang terdiri dari dua ( 2 ) Dusun yakni Dusun KaE dan Dusun Piampo. Dusun KaE terdiri dari lima kampung yaitu Lapappeppe, Bakke’E, Laromping, LebongE, dan Pasabaru sedangkan Dusun Piampo terdiri dari tiga kampong yaitu Ujung Matajang, Piampo dan Awolagadinge. Dusun KaE : KaE artinya gali. KaE terletak di Sebelah barat Pekuburan Abbanungnge. Pada waktu masyarakat diperintahkan untuk membuat jalan poros Sempange – Paria, maka penduduk pergi menggali batu untuk digunakan sebagai pengerasan jalanan. Karena terbatasnya batu galian dan ketakutannya atas perintah, ada sebagian masyarakat mencuri batu nisan yang ada di pekuburan. Lapappeppe artinya pemecahan. Kampung ini berada diperbatasan Desa Wewangrewu. Batu yang yang digali di KaE dibawa ke Timur lebih kurang 3 km jaraknya, kemudian dikumpulkan. Batu tersebut dipecahkan menjadi batu-batu kecil. Tempat pemecahan batu, sekarang ini disebut Kampung Lapappeppe. Nama Bakke’e diambil dari nama tumbuhan. Sebatang pohon yang sangat besar tumbuh ditempat ini, yang namanya pohon Bakke. Lebongnge artinya tempat yang tinggi. Kampung ini tempatnya berada di dataran tinggi. Pasabaru berarti pasar yang baru.
Di kampong ini sekitar tahun 1960-an pernah ada pasar yang sangat ramai, bahkan lebuh ramai dari pasar Sempangnge. Dusun Pimpo : Piampo berasal dari kata Sitakappong, artinya saling berdatangan. Kedatangan penduduk disini untuk membuka lahan pertanian. Mereka ada yang berasal dari Dunrungnge (arah barat daya), dari Paria (arah utara), dan ada dari Palippu (arah barat daya). Ujung Matajang, Ujung artinya batas akhir, Matajang artinya penglihatan yang terang dan jauh. Bila kita memandang jauh maka kelihatan hamparan sawah, kebun dan hutan. Awolagading, Awo artinya bamboo dan gading artinya kuning. Kampung ini berada disebelah Utara yang berbatasan dengan Desa Waetuwo. Pernah tumbuh serumpun bamboo kuning yang ditanam oleh La Baco, sehingga kampong ini di beri nama Awolagading. Wewangrewu sendiri terdiri dari 2 kata yaitu Wewang dan Rewu. Wewang berarti Goyang dan Rewu berarti Angin. Wewangrewu diartikan sebagai bangunan rumah yang bertiang satu dan mempunyai kamar 40 buah. Bangunan rumah yang tersebut muncul secara tiba-tiba diatas bukit Palippu sebelah barat jalan simpang tiga Palippu. Walaupun diterpa angin yang sangat kencang rumah tersebut tidak goyah. Cerita masyarakat mengatakan bahwa pada waktu Sawerigading berlayar ke tanah China (Pammana) sesampainya di lampulung Kepalanya dibelokkan kearah barat, melalui Penre Tonronge, Lapappeppe, terus ke Palippu, di Palippu ia mendirikan rumah sebagai tempat peristirahatan (tempat tinggal).