Wewangrewu, 10 Juni 2026 – Pemerintah Desa Wewangrewu melaksanakan kegiatan Rembuk Stunting dalam rangka penyelenggaraan konvergensi pencegahan stunting secara partisipatif, transparan, dan akuntabel sebagai bagian dari perencanaan program percepatan penurunan stunting Tahun 2027. Kegiatan berlangsung di Aula BPD Kantor Desa Wewangrewu pada Rabu (10/06/2026). Rembuk Stunting dihadiri oleh Kepala Desa Wewangrewu beserta perangkat desa, Camat Tanasitolo, Kepala UPTD Puskesmas Wewangrewu, TA P3MD Kabupaten Wajo, Ketua BPD Desa Wewangrewu, serta kader Posyandu se-Desa Wewangrewu. Kegiatan ini juga dilaksanakan di seluruh desa di Kecamatan Tanasitolo sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Dalam sambutannya, Camat Tanasitolo Drs. Andi Ramlan Danial, M.Si menyampaikan bahwa stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi juga berkaitan dengan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi di masa depan. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader, dunia usaha, hingga masyarakat dan keluarga.
Ketua Kader Pembangunan Manusia (KPM) Desa Wewangrewu Nilam Antikasari juga memaparkan data sasaran percepatan penurunan stunting yang terdiri dari 42 remaja putri, 8 calon pengantin, 25 ibu hamil dan ibu nifas, serta 86 balita. Selain itu, disampaikan pula kondisi tiga posyandu yang ada di Desa Wewangrewu, yaitu Posyandu Dewata I, Dewata II, dan Tenriawaru yang masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana berupa pengadaan pintu, meja, dan kursi guna menunjang pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam pemaparan permasalahan khusus, disampaikan bahwa program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri telah berjalan, ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan kehamilan dan mendapatkan tablet Fe, serta calon pengantin telah mengikuti pemeriksaan kesehatan dan imunisasi sebelum menikah. Untuk ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK), diusulkan pemberian susu dan vitamin sebagai bentuk intervensi tambahan.
Sementara itu, berdasarkan data yang dipaparkan terdapat 4 balita dengan status gizi kurang, tidak ditemukan kasus gizi buruk, dan 16 balita terdata mengalami stunting. Sebagai tindak lanjut, diusulkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita serta sosialisasi pencegahan stunting melalui edukasi pemenuhan gizi anak. Selain itu, untuk 30 anak usia 3–6 tahun di desa, diusulkan pelaksanaan kelas parenting dan Kelas Bina Keluarga Balita (BKB) guna meningkatkan kapasitas pengasuhan keluarga.
Melalui kegiatan Rembuk Stunting ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat komitmen dan kolaborasi dalam upaya percepatan penurunan stunting di Desa Wewangrewu. Hasil rembuk akan menjadi dasar penyusunan program dan kegiatan desa Tahun 2027 agar lebih tepat sasaran dan efektif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.